SENYUM ADALAH IBADAH

asd

aaa

Kedengarannya sederhana. Sabda Nabi tersebut memang diarahkan kepada setiap individu, agar memulai menatap hari2 indah kita dengan senyum ceria. Senyum yang keluar dari mulut kita adalah cerminan hati. Namun bisa juga hati orang yang sedang dirundung sedih dapat digerakkan oleh senyuman kita. Sebagai contoh, jika kita sanggup membuat senang orang yang sedang bersedih, otomatis kita akan ikut riang dan terhibur. Jika kita sedang membuat sang bayi tertawa terkekeh2, kita pun akan terbawa dalam gelak dan tawa riang.

Senyuman yang bisa dilakukan oleh siapa saja, ternyata sangat murah, bahkan tanpa biaya. Ilmu marketing tingkat dunia sekalipun sesungguhnya berawal dari senyuman kita yang membuat orang lain tersenyum. Kecenderungan produsen tingkat dunia, berusaha merebut kesetiaan konsumen dengan tebar senyum agar pelanggan terpikat. Perhatikan iklan2 di TV, hampir semuannya berusaha menampilkan kelucuan untuk mengajak tawa.

Sinyal Nabi ini ingin menunjukkan bahwa ibadah ternyata bukan sesuatu yang sulit, bahkan semudah tersenyum. Tidak ada halangan seseorang untuk beramal, apakah mereka orang kaya ataukah miskin. Namun memulai mengajak orang tersenyum, harus kita mendahului terlebih dahulu. Tersenyum adalah bagian dari ibadah, mengandung makna, mengajak orang senang, haruslah dimulai dari kita. Mengajak orang sukses juga bermula dari kita yang sukses.

Jujur saja, kita semua pasti ikut merasakan bahagia, ketika melihat keluarga orang lain bahagia. Setidaknya ada rasa ingin bahagai sebagaimana mereka. Maka, membuat orang lain bahagia sesungguhnya berangkat dari ketauladanan dari diri kita. Jika kita menunjukkan dimata khalayak sebagai individu maupun keluarga yang bahagai, orang lain akan terinspirasi untuk menjadi bahagia. Bahagia tidak perlu hanya diukur dari tingkat ekonomi, akan tetapi harmoni dan suasana keluarga itu.

Senyum yang asli adalah senyum yang lahir dari suasana hati. Penataan hati yang hanya diijinkan menerima input positif dari luar akan sangat membantu senyum dalam keabadian. Hanya kita yang sanggup memfilter hal mana yang baik yang harus dimasukkan dalam hati, dan hal mana yang cukup berhenti sampai ditelinga saja. Kita akan selalu menjadi manusia yang penuh ibadah karena tersenyum. Keabadian senyum yang bernilai ibadah hanya akan diperoleh oleh jiwa bersih yang diberi makanan berupa “positif thingking”. Wallohu a’lam

ass

Sumber : Disini dan Disini

Posted on Mei 30, 2011, in Ibadah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: